A.
Konsep Istima’
Istima’ adalah bentuk masdar dari kata istama’a- yastami’u-
istima’an. Istima’a sendiri adalah bentuk perubahan dari kata sami’a- yasma’u-
sam’an yang mendapat tambahan huruf alif, sin dan ta. Sami’a berarti menangkap
atau mengetahui dengan indra telinga. Kata sami’a bisa diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia dengan kata mendengar atau mendengarkan (to hear), sedangkan
kata istama’a lebih tepat diterjemahkan dengan kata menyimak (to listen).
Secara bahasa terdapat pengertian antara mendengar, mendengarkan
dan menyimak. Dalam kegiatan mendengar ada unsur ketidaksengajaan dan
kebetulan, sementara dalam kegiatan mendengarkan sudah ada unsur kesengajaan
tetapi belum diikuti unsur pemahaman secara total. Sedangkan menyimak,
mencangkup kegiatan mendengarkan yang disertai usaha memahami secara total dan
disertai jugga dengan perhatian dan minat. Oleh karena itu, istilah yang
digunakan untuk maharah al-istima’ dalam tulisan ini adalah keterampilan
menyimak.[1]
Keterampilan menyimak (istima’) adalah kemampuan seseorang dalam
mencerna atau memahami kata atau kalimat yang diujarkan oleh mitra bicara atau
media tertentu. Kemampuan ini sebenernya dapat dicapai dengan latihan yang
terus menerus untuk mendengarkan perbedaan-perbedaan bunyi unsur-unsur kata
(fonem) dengan unsur-unsur lainnya
menurut makhraj huruf yang betul baik langsung dari penutur aslinya
maupun melalui rekaman.
Menyimak adalah suatu keterampilan yang hingga sekarang agak diabaikan
dan belum mendapat tempat yang sewajarnya dalam pengajaran bahasa. Masih kurang
sekali materi berupa buku teks dan sarana lain, seperti rekaman yang digunakan
untuk menunjang tugas guru dalam pengajaran menyimak untuk digunakan di
Indonesia.[2]
لقد
أصبح تعلم و تعليم لغة ما ينطلق الان من كونها وسيلة الاتصال فلا يكفى لمتعلمها أن
يتكلم بها بل لابد أيضا أن يفهمها كما
يتحدثها أبناؤها. فعملية الاتصال ليست متكلما فقط بل هي تتضمن متكلمًا و مستمعاً
فى ذات الوقت, وقد يتبادل الاثنان الادوار.
و
ينبغى أن يكون واضحا فى أذهاننا أن الفهم فى الاستماع لا تعنى أن تسمع الإنسان كل
ما يقال من كلمات وعبارات و يفهمها تماما, إذ قد يستمع كلمات وعبارات كثيرة ولا
يفهمها وهنا يرتبك ويفقد القدرة على متابعة الحديث, مع أن هذا أمر طبيعي في
الاستماع يمكن التغلب عليه بتمكين المتعلم من مهارات التركيز على المعنى العام فى
الحديث لا التفاصيل خاصة فى المراحل الأول.
ويعتبر
الاستماع والفهم مهارتين متكالمتين من مهارات اللغة التى ينبغى أن يتدرب المتعلمون
عليها منذ بدء تعلمهم اللغة العربية لأهميتها فى السيطرة وظيفة. ولكن ما الاستماع؟أن
المقصود بالاستماع هنا ليس السماع بل المقصود
هو الإنصات وأن هذا المصدر الأخير يعتبر أكثر دقة فى وصف المهارة التى
نعلمها أو نكونها لدى الدراس. وإذا كانت القراءة عملية تقوم بشكل كبير على النظر
إلى الرمز المكتوب أو التعرف عليه ثم تفسيره, نجد أن الاستماع عملية إنصات إلى
الرمز المنطوقة ثم تفسيرها.[3]
Dalam pembelajaran istima’, bahan-bahan ajar yang disajikan tidak
perlu panjang. Agar lebih efektif, sebaiknya materi ajar itu dipersiapkan dan
direkam sedemikian rupa berupa dialog atau percakapan tentang peristiwa
sehari-hari dalam bentuk ungkapan-ungkapan dan cerita-cerita pendek. Latihan
yang terus menerus tentang
menyimak-mendengarkan bunyi-bunyi bahasa Arab dapat dilakukan melalui
kemauan mendengarkan berbagai keterangan.
Mendengar yang dimaksud bukan hanya mendengar dengan menggunakan
telinga, melainkan juga melibatkan memori dan ingatan. Dalam hal ini, saat kita
mendengar, pikiran kita difungsikan untuk dapat menyimak dari apa yag kita
dengar agar mendapat manfaat yang sebesar-besarnya. Pendengar yang baik dan
cakap adalah pendengar yang pandai memilih dan mengikat apa yang terpenting dan
mengabaikan apa yang tidak penting.[4]
[1] Aziz
Fakhrurrozi dan Erta Mahyudin, Pembelajaran Bahasa Arab, (Jakarta :
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, 2012), hlm. 273.
[2]
Acep Hermawan, Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), hlm 130.
[3]Mahmud
Kamil an Naqah, Ta’lim al Lughah al Arabiyyah li an Nathiqina bi Lughat
Ukhra, (Makkah: Jami’ah Ummul Qura, 1985), hlm. 121.
[4]
Ahmad Izzan, Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: Humaniora, cet ke4, 2011), hlm. 133.
Teruslah menulis ada kebaikan ilmu yg ditebar semoga bermanfaat bagi yg membutuhkan dan pahala ibadah bagi yg menebarkannya....
BalasHapus